home

Selasa 25 Okt, 2016

Meski Redakan Nyeri, Water Birth Tetap Tak Dianjurkan Oleh Dokter

Jakarta, Fenomena water birth atau melahirkan di air cukup populer karena diklaim dapat meredakan nyeri yg dialami ibu. Namun metode ini tidak dianjurkan oleh dokter dgn dua jenis alasan.

Dr Joseph Wax dari American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) menyampaikan berbagai studi telah membuktikan risiko infeksi, putus tali pusar hingga perdarahan akibat proses melahirkan di air. Meski begitu, air memang terbukti mampu meredakan rasa nyeri ketika persalinan.

Karenanya, Dr Wax menyampaikan boleh-boleh saja ibu berendam di air saat proses kontraksi hingga pecah ketuban. Namun saat proses pembukaan, ibu harus diangkat dan dipindahkan ke ranjang atau kasur yg kering.

Baca juga: Tetap Tenang Saat Melahirkan, Video Ibu Ini Jadi Viral

“Tidak ada laporan tentang risiko infeksi atau cedera ketika ibu berada dalam air hingga fase pertama melahirkan, yakni hingga terjadinya bukaan vagina. Berada di air menolong ibu menurunkan rasa nyeri akibat kontraksi,” tutur Dr Wax.

“Namun saat memasuki fase kedua, yakni telah pembukaan dan bayi mulai keluar, ibu tak boleh berada dalam air. Hal ini karena tingginya risiko bayi tenggelam, infeksi berat, putus tali pusar hingga perdarahan yg telah dibuktikan oleh banyak penelitian,” tambahnya lagi, dikutip dari Reuters.

Melahirkan di air populer karena prosesnya lebih cepat dan rasa sakitnya lebih rendah daripada proses melahirkan normal. Sebuah studi di Inggris menyebut 9 persen bayi di Inggris lahir dgn water birth, dgn rata-rata proses persalinan memakan waktu 32 menit saja.

ACOG memang melarang proses melahirkan bayi secara penuh dikerjakan di air. Namun seumpama ibu sehat, kehamilan tak memiliki persoalan dan komplikasi, melahirkan di air boleh-boleh saja dilakukan. Dengan catatan cuma fase pertama saja yg dikerjakan dan fase kedua dikerjakan di tempat kering.

Di Indonesia, metode water birth masih tetap kontroversial. Salah satunya terkait dgn risiko infeksi. Pada metode water birth, bayi dilahirkan dalam bak menyimpan air. Diyakini bayi tak mulai tersedak karena refleks selama dalam cairan ketuban melatih bayi buat tak segera bernapas ketika berada dalam air. Namun air dalam bak tentu tak sama dgn air ketuban, banyak risiko kontaminasi di dalamnya.

“Masalah sterilitas air tidak jarang menjadi isu terjadinya infeksi pada janin,” kata dr Sita Ayu Arumi, SpOG, dari RSU Bunda Menteng Jakarta.

Sampai ketika ini pun belum ada dukungan dari Persatuan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) terhadap metode ini. Bahkan, POGI mengancam mulai mencabut rekomendasi pendaftaran anggota (dokter kandungan) yg menolong metode ini.

“Bukti yg didapatkan masih belum cukup kuat, sehingga POGI di Indonesia tak merekomendasikan metode ini,” kata dr Hari Nugroho, SpOG, dari RSUD Dr Soetomo yg juga mengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya.

Baca juga: Studi Ini Sebut pada Kehamilan Berisiko Rendah, Water Birth Aman untuk Bayi(mrs/up)
Sumber: http://health.detik.com
Terimakasih telah membaca bacaan kami seputar Kesehatan dengan subjek Meski Redakan Nyeri, Water Birth Tetap Tak Dianjurkan oleh Dokter. Semoga artikel tersebut bermanfaat dan dapat menambah pemahaman sahabat semua. Salam Kesehatan Indonesia.